Senin, 04 Agustus 2014

KEPENGEN NYASAR

HILANG DI SIANG BOLONG 09.30 WITA Baru sepuluh menit aku tiba di tempat ini. Ah.... Tempat ini lagi. Aku berdiri membawa tas ranselku dan mengancingkan jaketku, aku ingat, tepat setahun lalu aku berdiri di bawah pohon kamboja ini. Sambil sesekali melihat ke arah jalan raya yang sepi. Matahari yang bersinar di atas kepala malah membuatku bersemangat. Aku menunggu. Ya, aku terlihat sekali sedang menunggu seseorang yang lama sekali tak berjumpa denganku. Beberapa menit berlalu, yang kutunggu tiba. Sambil memamerkan senyum patennya, pemuda itu menyambutku dengan gaya konyolnya. Aku tersenyum membalas senyumnya, kemudian ia menyuruhku memakai helm yang di bawanya. Seketika setelah itu, motor yang ditumpangi kami melaju menuju sebuah rumah kost. Huff…. Setahun tanpa kabar darinya membuat bongkahan rindu ini semakin membengkak. Karena emosi sesaat, kami memutuskan kehilangan contact satu sama lain. Dan selama setahun itulah, aku tidak menghubunginya, begitu juga ia. Aku bahkan tak tahu, bagaimana tampangnya sekarang. 09.40 WITA Siang ini, setelah dua puluh menit aku menunggu dan berpikir. Apa yang harus kulakukan di Pulau Dewata ini? Akhirnya aku menyerah, bukankah tujuan ku ke pulau ini, untuk menemui dia. Bukankah aku yang berniat memberikan kejutan ini padanya. Datang tiba-tiba, menemuinya di tempat kost. Pasti aku bisa melihat senyum paten itu lagi. Senyum khas milik Dion. Senyum yang selalu meninggalkan jejak manis di kedua pipinya. Tapi semua itu tidak semudah kelihatannya. Setahun yang lalu, ketika aku ke sini. Dion yang menjemputku, aku tinggal tunjuk saja mau ke mana, setelah itu pasti dia yang menunjukkan jalannya. Jangankan berpikir tentang objek wisata, Dion bahkan sudah menyiapkan rute wisata terbaik untukku selama dua hari ke depan. Tapi itu tahun lalu. Sekarang. Aku sendirian di tempat ini, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana. Dion, tahukah kamu, aku sudah ada di sini. “Nunggu siapa gek? ” tegur seorang bapak yang sepertinya sudah mengamatiku sejak tadi. “E…. nunggu teman pak. ” jawabku berbohong. “Oh…. Tunggu di situ saja, ada kursinya, barangkali temannya masih lama. ” katanya sambil menunjuk, sebuah bangku panjang yang ada di depan pos security. “Nggak usah pak. Paling bentar lagi teman saya datang. ” jawabku berbohong lagi. “Ya sudah kalau begitu, saya ke dalam ya, nanti kalo mau duduk situ, duduk saja. Nggak apa-apa. ” jelasnya panjang lebar dengan logat Bali yang kental. Aku mengangguk sambil mengucapka terima kasih. Kemudian aku berpikir lagi. Apa aku harus menelpon Dion dan menyuruhnya datang ke sini dan menjemputku? Bodoh. Bukan kejutan itu namanya. Baiklah… Mau tidak mau, memang harus aku yang datang ke kost nya. Pasti lebih seru nanti. Tapi tunggu, dengan apa aku menuju kostnya. Aku kan ke sini naik kereta api. Pikiranku berputar lagi, dan aku tahu jawabannya. 10.25 WITA Aku mengelap peluh yang menetes di keningku. Jaket yang tadi kupakai, kutenteng di tangan kiri. Sementara di tangan kananku sebuah handphone yang sekarang berfungsi sebagai penunjuk arah mulai menunjukkan tanda-tanda kehabisan energy, tinggal 5 persen lagi. Oh God…. Di google maps tertera kalau dari kantor stasiun kereta api Denpasar menuju alamat kost Dion hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit 56 detik menggunakan jalur pelajan kaki. Dan sekarang, sudah setengah jam lebih berjalan kaki, aku bahkan belum melihat pagar kost nya. Aku masih ingat betul bagaimana bentuk halaman depan kost itu, cat pagarnya, warna temboknya, jalanan di depannya. Tapi entahlah. Kepalaku mulai berkunang-kunang rasanya. Ingin segera aku menelpon taxi dan meminta di antar ke bandara. Meskipun penerbanganku baru berlangsung dua hari lagi. Bodo amat. Setidaknya di bandara lebih aman, daripada melakukan aksi konyol seperti ini. 10.45 WITA Aku memutuskan duduk di tepi trotoar, menghabiskan sisa air mineralku yang tinggal sedikit. Aku bahkan tak menghiraukan keringat yang bercucuran di wajahku. Entahlah, mungkin mukaku sudah merah sekali sekarang. Handphone ku mati total. Sisa energy 5 persen tak sanggup bertahan lama. Seorang ibu dengan pakaian adat Bali lewat di depanku. Buru-buru aku mencegatnya dan menanyakan sebuah alamat. Beliau bilang aku salah mengambil jalan, karena jalan ini akan membuatku berputar lebih jauh. Kemudian dengan ramah ia menunjukkanku arah yang harus kulalui agar sampai di tempat tujuanku. Aku mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada ibu tersebut , dalam hati aku menyumpah-nyumpah pada google map yang membawaku sampai ke tempat ini. Aku pun melanjutkan perjalanan. Matahari semakin terik. Kakiku semakin tak kuat, ingin istirahat. Tapi aku memaksa tubuhku berjalan sedikit lagi. Sedikit lagi, dan aku akan sampai. Akhirnya aku tiba di tempat ini. Aku mengetuk pintu, sesosok lelaki berumur empat puluhan membukakan pintu. “Permisi pak, Dion ada? Saya Fay, temannya dari Surabaya. ” kataku langsung pada intinya. “Oh. Sebentar ya. ” katanya sambil mempersilahkanku duduk. Aku menunggu, dan tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. “Fay…. ” “Dion… ” dengan cepat aku menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Aku ternganga, melihat sosok kurus yang ada di depanku. Mengapa Dion jadi kurus begini. Aku memejamkan mata, mencoba berpikir ulang. Astaga…. Pemuda ini bukan Dion. “Ray. Kamu Ray? ” tanyaku menyakinkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar